Selasa, 11 Februari 2014

A Few Minutes (Horor)



Hujan siang ini masih menyisakan genangan air di sekitar jalanan. Hawa siang ini tak sehangat kemarin. Mungkin karena hujan tadi, hawa dingin lebih senang tinggal di sana setelah hujan. Walau pun begitu, hal tersebut tak sama sekali mengganggu rutinitas orang-orang saat itu. Mereka masih beraktivitas seperti biasa.

Seorang gadis berkaki ramping dan berambut pirang keluar dari dalam sebuah cafe. Dia keluar dengan menggunakan celemek. Kelihatannya dia seorang barista. Dia merentangkan tangannya mencoba menghangatkan tubuh dinginnya. Dia nampak sangat menikmati sinar matahari yang menembus celah-celah awan hitam yang telah berubah menjadi putih. Hangat! Mungkin begitu pemikirannya.
Dalam waktu beberapa detik gadis itu masih berdiri di sana. Dia masih di sana sampai seorang pria berpayung hitam berhenti dan melihatnya. Pria itu masih menatap si gadis dengan seksama. Waktu seakan-akan berhenti ketika si pria menatapnya. Pikirannya melayang seakan pergi entah ke mana. Entah ke masa lalu atau masa depan.
Mata pria itu tak sama sekali berkedip. Sampai dia terkena cipratan air yang berbunyi ‘Clak’ ke arah matanya.
Semuanya kembali normal. Waktu seakan berjalan kembali. Orang bilang jika kita bertemu cinta sejati waktu akan terhenti. Apakah dia cinta sejati si pria?
“Eh!” ucapnya meluruskan tangan hendak menyentuh si gadis.
Namun terlambat, dia sudah terlanjur masuk ke sana. Pria itu ikut masuk ke dalam kafe tersebut. Dari ambang pintu dia sudah bisa melihat si gadis menjejalkan minumannya ke dalam mulutnya.
Perlahan kakinya mulai melaju ke arah gadis tersebut yang tengah berdiri di depan meja kasir.
Gadis itu terhenti meneguk cappucino yang tengah terjun ke dalam kerongkongannya. Dia langsung menyimpan cangkirnya di atas meja.
“Selamat datang di kafe kami. Anda mau pesan apa?” ucap gadis itu ramah.
Si pria tersebut mengalihkan tatapannya ke arah name tag yang si gadis pakai. Prily. Gadis itu bernama Prily.
“Ada yang aneh?” ucapnya melongok ke arah tubuhnya sendiri.
Sontak pria itu kaget.
“Ti-tidak.” katanya gelagapan. Dia sungguh tak sadar atas apa yang telah dia lakukan.
“Maaf saya mengejutkan anda. Anda mau pesan apa?” tanya dia ulang.
“A-a-americano.” gumamnya sedikit tersedak. Seolah kata-kata yang akan diucapkannya tersangkut dalam tenggorokannya.
“Tolong uangnya dulu.” ucap si gadis.
Tangan pria itu bergetar ketika mengambil dan memberikan beberapa lembar uang dari sakunya. Apalagi ketika dia menerima Americano yang dia pesan. Seakan tangannya kehilangan sebatang tulang.
Dia berjalan sambil membawa secangkir Americanonya. Dia duduk sambil menatap sebuah cincin yang dia pakai di jari manisnya. Dia pun merogoh saku dan keluarlah sebuah benda yang tak beda jauh dari cincinnya.
Dia menatap gadis yang bernama Prily itu. Matanya seakan menerawang dan menjelajah waktu. Entah ke bagian mana. Masa depan atau masa lalu. Entahlah!
Dia seakan memutar sebuah cerita yang entah ada atau tidak. Sejatinya hanya ada di dalam pikirannya.
“Bagaimana rasanya enak, kan?” kata gadis itu sambil menjejalkan pasta ke dalam mulut si pria dengan perasaan senang.
“Kau harus mencobanya. Ini benar-benar lezat.” ucap pria sambil menggulung pasta dengan garpunya. Dia pun menyuapi si gadis dan tersenyum manis padanya.
“Lihat, ada sisa saus pasta di mulutmu. Kau memang seperti anak kecil, Prily.”
Si pria mengusap sedikit saus pasta yang tertinggal di mulut sang gadis. Gadis itu tersenyum sambil memegang tangan pria.
“Aku mencintaimu, George.”
Ahh, sungguh momen yang sangat indah. Andai saja dia bisa melakukannya lagi. Lagi? Kata siapa lagi? Tapi dia memang pernah melakukannya.
George menatap gadis itu. Mata gadis itu sungguh indah. Pancaran senyum dari bibir tipisnya sungguh mempesona. Apalagi caranya menatap dan melayani pengunjungnya, ahh dia sungguh lembut. Dia sungguh anggun. Tubuhnya yang ramping sangat pas dengan betuk wajah dan rambut pirangnya. Sungguh Yang Maha Indah yang menciptakan gadis seindah dia.
Pikiran George menerawang lagi dan membuat waktu berputar cepat lagi. Apakah ke depan atau ke belakang? Entahlah, sejatinya berputar.
“Ini cincin milikmu?” tanya Prily sambil melihat jari manis George.
“Kau boleh memilikinya. Tapi bukan yang ini, yang ini.” ucap George sambil tersenyum.
Dia memasukan satu cincin ke jari Prily yang lentik. Dia menyentuh kulit halusnya dan menatapnya hangat.
“Ini tanda cinta kita Prily.”
Ahh… lagi-lagi momen yang sangat indah. Benar-benar romantis. Bisakah dia melakukannya lagi? Lagi? Kata siapa lagi? Tapi memang dia pernah melakukan hal itu sebelumnya.
Matanya kembali mentapa Prily yang tengah melayani pelanggannya sendiri. Hatinya berdesir. “Akahkah kita melakukannya?” Ahh… Entahlah! Mungkin ada dua pilihan. Ya atau tidak. Namun bagaimana pun juga, ada sebuah rasa yang seakan mengguncang dan merasuk dalam-dalam hatinya. Bagaimana pun juga dia tak bisa untuk menyangkalnya. Benar-benar rasa yang baru dia rasakan-walau sebelumnya pernah dia rasakan pada orang lain-. Dia merasa hal itu seakan baru dan hanya kali ini dia rasakan. Apakah itu cinta? Apakah dia telah mencintainya? Apakah iya?
Lagi-lagi pikirannya itu-tentang dia dan Prily – kembali menghantui benaknya. Kini pikirannya melaju ke saat-saat Prily meninggalkan dirinya. Uhh… apa yang sedang terjadi padanya?
“Maafkan aku George, aku tak bisa lebih lama bersamamu lagi. Kurasa kau mengerti apa yang aku rasakan.” ucap Prily getir. Dia mencabut cincin yang tersemat di jarinya. Dia lalu memberikannya ke pemilik sebelumnya.
“Aku harap kau tak tersakiti oleh ini.”
Dia berlalu. George sendirian. Hatinya benar-benar gusar. Wanita yang dia cintai meninggalkannya. Meninggalkannya dalam sebuah khayalan belaka.
Dia menatap cincinnya-cincin yang tergeletak di atas meja, bukan di jarinya -. Dia lalu menatap Americanonya yang tak sedikit pun dia teguk dan sentuh. Air mata mulai keluar dari pelupuk matanya. Dia sadar. Sadar bahwa dia tak akan bisa memiliki gadis berambut pirang itu. Kalau pun iya, mungkin akhirnya mereka juga akan berpisah. Sejatinya tak jodoh.
Dia mulai berdiri dan meninggalkan satu cincinnya di atas meja yang dia duduki. Dia mulai berjalan keluar dan mengambil payung hitamnya. Dia mulai melangkah keluar dari sana.
Gadis berambut pirang merasa ada yang salah dengan pria tersebut. Dia segera menghampiri meja yang baru saja diduduki George. Dia melihat cangkir americano yang dia pesan masih sama seperti awal. Dan dia juga melihat sebuah cincin tergeletak di sana. Tanpa pikir panjang, dia langsung menghampiri George.
“Tuan maaf. Anda meninggalkan cincin anda di meja.” ucapnya sambil menyentuh pundak George.
George berbalik. Dia tersenyum lemah.
“Kau simpan saja ini. Anggap kita telah melakukan sesuatu bersama.” ucapnya getir.
Gadis bercelemek itu terpaku. Semua adegan yang dipikirkan oleh George seolah-olah bertransmigrasi ke dalam pikirannya. Seolah-olah dia dapat melihat dan memikirkan sesuatu yang telah George pikirkan. Pasta itu, cincin, dan bahkan saat mereka berpisah. Dan yang paling jelas…
“Ayo ikut bersamaku.” ucap pria itu sambil menyondorkan payung untuk menaungi mereka berdua.
Gadis yang sudah berdiri di sana sekitar beberapa menit itu kini bisa pulang bersama dengan seorang pria yang dianggapnya lucu itu. Dan mungkin akan menjadi sebuah awal dari kisah yang berakhir pedih bagi salah satu dari mereka.
“George…” desahnya pelah.
Dia seolah-olah telah menghafal nama itu. Dia seolah-olah telah membayangkan masa depan saat dia bersamanya. Namun tidak, George tak akan melakukannya jika harus tersakiti. Dia tahu, apa yang dipikirkannya adalah waktu yang akan datang. Dan dalam beberapa menit itu dia bisa menjelajahi waktu yang seharusnya dia tak boleh salah mengambilnya. Seperti kisah yang baru saja akan terjadi-kisah cinta yang akan George lakukan bersama Prily-.
“Prily” desah George -mungkin beberapa kali menyebutnya di masa depan-.
“Kuharap kau mengerti.”
George pun pergi meninggalkan Prily. Secercah air mata keluar membasahi pipi putih nan mulusnya. Dia sungguh tak menyangka. Ternyata seseorang yang baru saja dia temui telah menjelajahi waktunya. Dia tak bisa menyangkalnya. Hal itu benar-benar dia lihat.
Kini, seorang George keluar dari dalam kafe tersebut. Dia melangkah sendiri bersama hujan yang kini mengguyurnya. Sendiri. Ya, dia sendirian. Jika saja dirinya tak menjelajah dan membayangkan dalam beberapa menit itu, dia mungkin sudah mengambil sikap yang salah. Walau pun ada sedikit rasa yang mengganjal di dalam hatinya, dia yakin jika tak terluapkan -rasa cinta pada Prily- itu tak jadi sakit yang teramat. Tapi jika dia mengatakannya, dia akan berpisah juga dengan Prily. Pedih mungkin. Tapi bagaimana pun juga, beberapa menit itu -saat duduk di kafe- sungguh memiliki arti yang cukup dalam bagi dirinya dan Prily. Walau pun dia tak bisa menyangkal rasa yang menjejal di hatinya, dia akan lebih tersakiti saat harus ditinggal dan berpisah dengan orang tersayangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar